Kuta menjadi sebuah desa yang super modern, kayanya sudah terlihat dari sekarang. Bangunan-bangunan dengan fasad yang aneh tapi menarik perhatian banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuta. Seperti misalnya, ada Kuta Galeria dengan fasad-fasad yang sangat menarik (bagi saya dan teman saya), Hypermart dengan fasad bangunannya yang serba kotak/kubus, Carefour, Sushi Tei, Rip Curl Fashion Outlet, dan masih banyak lagi bangunan-bangunan di daerah Kuta yang bisa membuat geleng2 kepala bagi orang yang melewatinya. Kesan local jenius tampaknya dikesampingkan, meskipun masih ada sedikit, seperti tempelan2 ukir2an khas
Bali baik itu di dinding maupun bagian lain pada suatu bangunan. Yah, bisa dibilang, persentase antara modern dan kearifan local kira2 80 : 20, lumayan mencolok juga. Apalagi jika masuk kawasan Pecatu, perbandingannya bisa 90 : 10, dahsyat, perbedaan yang mencolok. Ditambah lagi sekarang, proyek dari Bakrie Land (lupa namanya), yang sepertinya kurang sekali memiliki sentuhan arsitektur tradisional. Banyak lagi bangunan2 komersial di Kuta yang jauh dari kesal lokal jenius.
Lalu, bagaimana sikap pemerintah daerah..?? Seakan-akan pemerintah daerah cuek akan hal itu. Tapi wajar sih, ini kan demi kepentingan pemasukan daerah, coba ga ada Kuta, ga ada bangunan2 komersial yang aneh bin ajaib itu, wisatawan domestic ato mancanegara, mungkin dikit yang datang ke Bali, yah selain aura mistik Bali itu sendiri yang membuat para tamu2 itu datang untuk kesekian, kesekian dan kesekian kalinya.
Saya jadi berpikir (tiba2 muncul ide gila), Bali mempunyai Desa super modern yang bernama Kuta yang mencakup seluruh kawasan Kecamatan Kuta, dengan bangunan2 yang tidak terlalu terikat dengan perda yang berlaku, seperti kearifan lokal, tapi tetap mengacu pada peraturan tentang ketinggian bangunan yang tidak boleh lebih dari 15 m atau setinggi pohon kelapa. Biarkan investor bermain dengan ide2 kreatif dan gila mereka untuk merubah “bentuk wajah” Kuta menjadi lebih gila dan modern. Weh, bisa dibayangkan, gimana jadinya semua itu, bangunan2 aneh, gila, mantap dan spektakuler yang juga ditambah dengan fasilitas2 yang menunjang kegiatan pariwisata berkembang di Kuta. Asli, wisatawan bahkan menjadi menggila di Kuta, dan saya yakin, pasti wisatawan menjadi lebih banyak datang ke Bali. Kehidupan dan detak jantung Kuta pasti makin berdegup kencang seiring adanya perubahan “bentuk wajah” dari Desa Kuta.
Tetapi, ini ada tetapinya, hal itu hanya berlaku bagi Kecamatan Kuta, bukan daerah Bali yang lain, lagi sekali saya tegaskan, BUKAN DAERAH BALI YANG LAIN, HANYA UNTUK KAWASAN KUTA. Untuk daerah Bali yang lain, kita jaga kearifan lokal yang sudah ada, tidak boleh diganggu gugat. Misalnya, daerah Denpasar Kota, yang terkenal dengan jalan Gajah Mada dan perempatan Catur Muka. Nah, daerah itu kan kentel banget dengan istilah Kota Tua-nya Denpasar, yang sangat sayang sekali berubah karena penambahan/perubahan bangunan yang ada di sebelah timur kanto BNI 46 Gajah Mada. UUhhhh, merubah image aja itu bangunan ruko yang baru, modern ga jelas gitu, beda banget sama yang lainnya. Intinya JELEK, ga matching, ga masuk n ga ada juntrungannya. Bagi yang punya konsep, maaf ya dikritik.
Nah, lanjut lagi, trus ada daerah Gianyar yang memiliki daerah/kawasan pedesaan yang, gillaaaa, dahsyat abissss. Siapa ga tahu Ubud, Kedewatan n Payangan..?? Pasti semua wisatawan tau daerah tersebut. Nah, sekarang daerah itu kan terancam oleh villa yang memang sih bagus, cumin bukan pada tempatnya. Bayangkan, di daerah tebing2, pinggir sungai dan hutan yang notabene masih banyak pohon2 tua yang mesti ditebang untuk lahan pembangunan villa. Kan, kasian tanah dan pohonnya, yang notabene sudah lama tumbuh dan sebagai resapan air hujan yang dapat mencegah longsor. Eh, ini malah di timbun dengan villa2 yang saya rasa lama-kelamaan akan merusak tanah Bali itu sendiri. Nah, ada lagi di daerah Tabanan, yang bener2 mencaplok lahan hutan dimana memang diperuntukkan untuk hutan lindung yang menjaga kestabilan air tanah, eh ini diatasnya malah dibangun villa, beton2 yang ga jelas, udah deh, longsor. Masih banyak lagi contoh2 yang saya sebutkan diatas. Apalagi Karangasem, Bangli, Klungkung, Buleleng, Negara, wihh, itu daerah ya, desa tradisonalnya banyak banget, wih, dahsyat, ada Tenganan, Bugbug, Kamasan, Sidatapa, Cempaga, deelel, deelel, dengan budaya lokal yang masih sangat kental, yang beda 180 derajat dengan kawasan Kuta. Daerah itu, sungguh, sangat, sangat, sangat tradisional yang saying sekali jika mesti diobok2 oleh investor yang yah bisa dibilang kurang tanggap akan kearifan lokal.
Nah, maka dari itu, saya sih pengennya ya, Bali itu, ada kawasan modern bahkan super modern, dan tidak pula meninggalkan kawasan suci dan masih menjunjung kearifan lokan/lokal jenius. Pasti bakalan seru kalau hal ini jadi kenyataan. Saya membayangkan seperti Perancis (kalau tidak salah ya ini, ini saya dapet waktu saya kuliah dulu, mata kuliah Perkotaan, yang waktu itu dijelaskan bentuk2 kota, contoh2 kota yang indah, etc, etc) yang dimana wilayah Paris dengan kota Paris dipisah oleh Sungai Seine. Dimana pemerintah setempat, tidak mengijinkan para investor untuk mengutak-ngatik kota Paris, dimana bangunan2 tua dan bersejarah masih kokoh berdiri, dan masih terjaga dan terawatt dengan baik. Jadi sejarah Perancis, dengan mudah dilihat di kota Paris ini. Beda banget dengan kota modern /wilayah Paris, mantaaaaaaap, itu yang saya lihat (memang sih, saya ga pernah ke Perancis, tetapi dengan membaca buku, saya bisa terbayang, seperti apa kota Paris dan wilayah Paris tersebut) di image2 photo baik di buku atau di internet. Gedung2 pencakar langit, modern abiiiissss dengan system struktur terkini dan terdahsyat. Saya akan tunjukkan foto2 kota Paris dan wilayah Paris.
Kota Paris
|
Place de la Concorde |
|
Grand Palais |
|
Arc the Triomph |

|
Place de la Concorde |
|
Grand Palais |
|
Arc the Triomph |
Wilayah Paris

Sumber : Wikipedia-Paris
Ehm..ehm..andaikan Bali bisa seperti ini, masih memegang teguh tradisi dan tidak lepas juga dari globalism. Maaf jika ada kesalahan, harap kritikannya. Tererengkyu, matur tengkyu, matur suksma n terima kasih.